Latest Post
Showing posts with label SEBUAH CATATAN. Show all posts
Showing posts with label SEBUAH CATATAN. Show all posts
11.11.14
Kita mesti telanjang dan benar-benar bersih
Suci lahir dan di dalam batin
Tegaklah ke dalam sebelum bicara
Singkirkan debu yang masih melekat..
Singkirkan debu yang masih melekat..
Anugerah dan bencana adalah kehendakNya
Kita mesti tabah menjalani
Hanya cambuk kecil agar kita sadar
Adalah Dia di atas segalanya..
Adalah Dia di atas segalanya..( Untuk Kita Renungkan - Ebiet G. Ade )
Pikiran manusia seringkali merasakan keheranan manakala menghadapi ragam permasalahan yang tak pernah berakhir dalam kehidupan. Baru selesai dengan satu permasalahan sudah timbul permasalahan yang baru. Mengapakah seakan-akan Tuhan dengan sengaja menyajikan permasalahan demi permasalahan, penderitaan dan sakit-penyakit di perhadapkan kepada kita, dan terkadang Ia tidak mengindahkan permohonan pertolongan kita, ada apakah?
Ketika kita memahami bahwa kehidupan ini adalah suatu ujian, kita akan menyadari bahwa tidak ada hal yang tidak penting di dalam kehidupan kita. Bahkan kejadian terkecil memiliki arti penting dalam pengembangan karakter kita, tiap hari merupakan hari yang penting, dan setiap detik adalah kesempatan bertumbuh untuk memperdalam karakter kita, untuk menunjukkan kasih atau untuk bergantung kepada Tuhan.
Dalam membentuk karakter kita, terkadang Tuhan memakai cara yang menyakitkan bagi kita bahkan tak jarang pula ia memakai hal yang kecil tanpa kita menyadarinya. Semua itu adalah untuk kebaikan kia. Namun biasanya kita mengeluhkan setiap kejadian buruk yang terjadi dalam kehidupan kita.
Kita senantiasa mengharapkan segala sesuatu terjadi dengan cepat, kita menginginkan perubahan secara revolusioner dan menghindari segala sesuatu secara evolusi. Hakekatnya proses pembentukkan yang Tuhan buat untuk kita adalah untuk menjadikan kita berkarakter kuat, tidak akan mudah jatuh, baik oleh badai maupun oleh angin semilir.
Bertumbuh menuju kedewasaan karakter itu memerlukan kerjasama yang sangat baik antara kita dengan Tuhan. Dimana, Tuhan telah menurunkan tangan-Nya untuk menyambut kita, tetapi tangan kuasa Tuhan tidak akan bekerja apabila hati kita masih keras. Keinginan kita masih kuat dan masih menghendaki apa yang kita ingini yang terjadi. Inilah sebetulnya faktor utama yang membuat proses pembentukkan itu tersumbat, dimana hati kita masih sombong dan tidak mau merendahkan hati dihadapan Tuhan.
Inilah yang Tuhan inginkan dari setiap kita dimana Ia menginginkan kita melalui titian kehidupan ini dengan cara-Nya atau kehendak-Nya. Sikap seperti inilah yang Dia inginkan ada pada setiap kita. Dalam hal ini tentunya dibutuhkan kepekaan dari kita dalam menyelami setiap kejadian yang terjadi pada kehidupan kita. Apapun hasil akhir yang terjadi kita terima dengan penuh ikhlas. Karena apa yang dipandang oleh kita baik belum tentu baik bagi Tuhan, apa yang dipandang buruk oleh kita, belum tentu buruk di mata Tuhan.
Setiap Detik Adalah Penting
Written By Unknown on 11.11.14 | 11.11.14
Kita mesti telanjang dan benar-benar bersih
Suci lahir dan di dalam batin
Tegaklah ke dalam sebelum bicara
Singkirkan debu yang masih melekat..
Singkirkan debu yang masih melekat..
Anugerah dan bencana adalah kehendakNya
Kita mesti tabah menjalani
Hanya cambuk kecil agar kita sadar
Adalah Dia di atas segalanya..
Adalah Dia di atas segalanya..( Untuk Kita Renungkan - Ebiet G. Ade )
Pikiran manusia seringkali merasakan keheranan manakala menghadapi ragam permasalahan yang tak pernah berakhir dalam kehidupan. Baru selesai dengan satu permasalahan sudah timbul permasalahan yang baru. Mengapakah seakan-akan Tuhan dengan sengaja menyajikan permasalahan demi permasalahan, penderitaan dan sakit-penyakit di perhadapkan kepada kita, dan terkadang Ia tidak mengindahkan permohonan pertolongan kita, ada apakah?
Ketika kita memahami bahwa kehidupan ini adalah suatu ujian, kita akan menyadari bahwa tidak ada hal yang tidak penting di dalam kehidupan kita. Bahkan kejadian terkecil memiliki arti penting dalam pengembangan karakter kita, tiap hari merupakan hari yang penting, dan setiap detik adalah kesempatan bertumbuh untuk memperdalam karakter kita, untuk menunjukkan kasih atau untuk bergantung kepada Tuhan.
Dalam membentuk karakter kita, terkadang Tuhan memakai cara yang menyakitkan bagi kita bahkan tak jarang pula ia memakai hal yang kecil tanpa kita menyadarinya. Semua itu adalah untuk kebaikan kia. Namun biasanya kita mengeluhkan setiap kejadian buruk yang terjadi dalam kehidupan kita.
Kita senantiasa mengharapkan segala sesuatu terjadi dengan cepat, kita menginginkan perubahan secara revolusioner dan menghindari segala sesuatu secara evolusi. Hakekatnya proses pembentukkan yang Tuhan buat untuk kita adalah untuk menjadikan kita berkarakter kuat, tidak akan mudah jatuh, baik oleh badai maupun oleh angin semilir.
Bertumbuh menuju kedewasaan karakter itu memerlukan kerjasama yang sangat baik antara kita dengan Tuhan. Dimana, Tuhan telah menurunkan tangan-Nya untuk menyambut kita, tetapi tangan kuasa Tuhan tidak akan bekerja apabila hati kita masih keras. Keinginan kita masih kuat dan masih menghendaki apa yang kita ingini yang terjadi. Inilah sebetulnya faktor utama yang membuat proses pembentukkan itu tersumbat, dimana hati kita masih sombong dan tidak mau merendahkan hati dihadapan Tuhan.
Inilah yang Tuhan inginkan dari setiap kita dimana Ia menginginkan kita melalui titian kehidupan ini dengan cara-Nya atau kehendak-Nya. Sikap seperti inilah yang Dia inginkan ada pada setiap kita. Dalam hal ini tentunya dibutuhkan kepekaan dari kita dalam menyelami setiap kejadian yang terjadi pada kehidupan kita. Apapun hasil akhir yang terjadi kita terima dengan penuh ikhlas. Karena apa yang dipandang oleh kita baik belum tentu baik bagi Tuhan, apa yang dipandang buruk oleh kita, belum tentu buruk di mata Tuhan.
Label:
SEBUAH CATATAN
11.11.14
Tuhan, tempat aku berteduh
Dimana aku mengeluh dengan segala peluh
Tuhan, Tuhan Yang Maha Esa
Tempat aku memuja dengan segala doa
Aku jauh, Engkau jauh
Aku dekat, Engkau dekat
Hati adalah cermin
Tempat pahala dan dosa bertarung
Untaian kalimat di atas adalah beberapa bait syair lagu tentang Tuhan yang dinyanyikan dan dipopulerkan oleh Bimbo, grup musik legendaris asal kota kembang Bandung.
Persis seperti bait dalam syair tersebut, biasanya disaat keadaan sedang tidak menentu dan sepertinya tidak ada lagi jalan keluar, kita merasa Tuhan jauh dari kehidupan. Perasaan seperti itu akan muncul manakala rasa khawatir sedang memuncak, menyelubungi hari-hari.
Orang-orang yang diliputi kekhawatiran, hidup di alam masa depan. Mereka terlalu banyak menghabiskan waktu untuk memikirkan apa yang mungkin terjadi dan mengkhawatirkan hal terburuk yang mungkin terjadi. Yang pada kenyataannya belum tentu terjadi.
Apa yang kita khawatirkan?
Kadang kala dikatakan bahwa kekhawatiran adalah membawa masa yang akan datang ke masa kini. Kekhawatiran adalah hanyutnya pikiran karena membayangkan akibat menyakitkan yang mungkin terjadi. Biasanya kekhawatiran timbul karena salah satu dari ketiga kategori alasan berikut ini.
1. Ancaman-ancaman.
Bila Anda tinggal di daerah yang rawan kejahatan dan baru dapat pulang kerja setelah hari gelap, Anda dapat merasa khawatir akan dirampok. Anda merasa sangat lega setelah tiba di rumah dengan selamat dan mengunci pintu. Salah satu alasan mengapa orang merasa khawatir adalah karena mereka merasa terancam secara fisik.
2. Pilihan-pilihan.
Banyak orang merasa khawatir ketika harus memilih dua pilihan yang diperhadapkan. Dimana pilhan tersebut harus segera di putuskan.
3. Pengalaman-pengalaman di masa lampau.
Penyebab ketiga dari kekhawatiran adalah kejadian di masa lampau. Traumatik kejadian buruk yang terjadi di masa lalu yang menghantui disepanjang hidup.
Kekhawatiran adalah hanyutnya pikiran karena membayangkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi. Itu adalah bentuk ketakutan terhadap kemungkinan dipermalukan, menderita sakit, mengalami kehilangan, atau mendapat kesusahan. Hal ini memperhadapkan kita pada pilihan. Kita dapat memilih untuk menghindar dari sumber kekhawatiran itu, namun hal ini hanya akan menambah stres. Atau, kita dapat memilih untuk menghadapinya, bertindak dengan tepat, dan melupakannya.
Apa bila rasa khawatir beralih dari rasa prihatin yang sehat ke rasa khawatir yang menekan, akan sangat mempengaruhi kualitas hidup kita:
-. Sulit tidur karena terus-menerus memikirkan apa yang akan terjadi.
-.Diliputi rasa bersalah ketika sedang beristirahat.
-.Merasa takut akan sesuatu sepanjang waktu.
-.Merasa panik pada situasi-situasi tertentu.
-.Tidak mau mengevaluasi perasaan-perasaan kita.
-. Menyalahkan orang lain untuk segala sesuatu.
-. Memiliki rasa takut yang tak jelas akan kemungkinan terjadinya suatu musibah.
Saat Rasa Khawatir Menerpa
Tuhan, tempat aku berteduh
Dimana aku mengeluh dengan segala peluh
Tuhan, Tuhan Yang Maha Esa
Tempat aku memuja dengan segala doa
Aku jauh, Engkau jauh
Aku dekat, Engkau dekat
Hati adalah cermin
Tempat pahala dan dosa bertarung
Untaian kalimat di atas adalah beberapa bait syair lagu tentang Tuhan yang dinyanyikan dan dipopulerkan oleh Bimbo, grup musik legendaris asal kota kembang Bandung.
Persis seperti bait dalam syair tersebut, biasanya disaat keadaan sedang tidak menentu dan sepertinya tidak ada lagi jalan keluar, kita merasa Tuhan jauh dari kehidupan. Perasaan seperti itu akan muncul manakala rasa khawatir sedang memuncak, menyelubungi hari-hari.
Orang-orang yang diliputi kekhawatiran, hidup di alam masa depan. Mereka terlalu banyak menghabiskan waktu untuk memikirkan apa yang mungkin terjadi dan mengkhawatirkan hal terburuk yang mungkin terjadi. Yang pada kenyataannya belum tentu terjadi.
Apa yang kita khawatirkan?
Kadang kala dikatakan bahwa kekhawatiran adalah membawa masa yang akan datang ke masa kini. Kekhawatiran adalah hanyutnya pikiran karena membayangkan akibat menyakitkan yang mungkin terjadi. Biasanya kekhawatiran timbul karena salah satu dari ketiga kategori alasan berikut ini.
1. Ancaman-ancaman.
Bila Anda tinggal di daerah yang rawan kejahatan dan baru dapat pulang kerja setelah hari gelap, Anda dapat merasa khawatir akan dirampok. Anda merasa sangat lega setelah tiba di rumah dengan selamat dan mengunci pintu. Salah satu alasan mengapa orang merasa khawatir adalah karena mereka merasa terancam secara fisik.
2. Pilihan-pilihan.
Banyak orang merasa khawatir ketika harus memilih dua pilihan yang diperhadapkan. Dimana pilhan tersebut harus segera di putuskan.
3. Pengalaman-pengalaman di masa lampau.
Penyebab ketiga dari kekhawatiran adalah kejadian di masa lampau. Traumatik kejadian buruk yang terjadi di masa lalu yang menghantui disepanjang hidup.
Kekhawatiran adalah hanyutnya pikiran karena membayangkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi. Itu adalah bentuk ketakutan terhadap kemungkinan dipermalukan, menderita sakit, mengalami kehilangan, atau mendapat kesusahan. Hal ini memperhadapkan kita pada pilihan. Kita dapat memilih untuk menghindar dari sumber kekhawatiran itu, namun hal ini hanya akan menambah stres. Atau, kita dapat memilih untuk menghadapinya, bertindak dengan tepat, dan melupakannya.
Apa bila rasa khawatir beralih dari rasa prihatin yang sehat ke rasa khawatir yang menekan, akan sangat mempengaruhi kualitas hidup kita:
-. Sulit tidur karena terus-menerus memikirkan apa yang akan terjadi.
-.Diliputi rasa bersalah ketika sedang beristirahat.
-.Merasa takut akan sesuatu sepanjang waktu.
-.Merasa panik pada situasi-situasi tertentu.
-.Tidak mau mengevaluasi perasaan-perasaan kita.
-. Menyalahkan orang lain untuk segala sesuatu.
-. Memiliki rasa takut yang tak jelas akan kemungkinan terjadinya suatu musibah.
Label:
SEBUAH CATATAN
6.11.14
Suara Hati Seorang Rakyat
Written By Unknown on 6.11.14 | 6.11.14
Sumber gambar: t2.gstatic.com
Drama perseteruan perebutan kursi orang nomor satu di Indonesia belum lama usai. Ketegangan diantara dua kubu pendukung mulai mereda, perlahan tapi pasti barisan rakyat kembali pada hal yang utama, yaitu persatuan. Langkah tersebut seakan tercermin manakala "euforia" rakyat tumpah ruah ke jalan menyambut sang pemimpin baru.
Beberapa hari sebelum terjadinya peristiwa "euforia" terekam adegan mesra diantara dua pemimpin dari masing-masing kubu yang "bertikai". Adegan itu laksana sang fajar yang mengecup mawar di kemuning pagi yang merekah. Angin sejuk pun menghantar hawa perdamaian.
Adegan kemesraan itu tidak berakhir sampai disitu. Tepat pada saat "Sang Raja" naik tahta dan bersumpah di saksikan para "Dewan Terhormat" dan dipersaksikan perwakilan dari negara sahabat. Masih terekam jelas benih persahabatan dari pemimpin maupun "tim anggota pesorak" mewarnai hari bersejarah bagi negeri Indonesia.
Entah kenapa kini "hawa permusuhan" kembali menyeruak. Apakah karena neraka sedang bocor? Hingga hawa panasnya menyelimuti segenap hati "para dewan terhormat". Seperti halnya lumpur lapindo, yang tak berakhir dan tak berujung terus mengalir mengangkangi hajat kehidupan rakyat "Sidoarjo". Yang harus menderita bukan karena ulah mereka, namun ulah "seorang" yang berhati serakah.
"Pertikaian" yang bagaikan sebuah dagelan tidak lucu kini sedang dipertonton oleh "wakil rakyat". Yang cukup dan sangat bikin bingung, wakil rakyat yang mana? Dan rakyat mana yang terwakili, bila perrikaian terus berlanjut. Bagaimana akan menyuarakan "suara rakyat" yang sudah memberikan hak suara, hak politiknya dengan memilih "tuan-tuan dan nyonya-nyonya" yang terhormat. Kapan Anda akan memulai kerja untuk rakyat?.
Padahal pemilu kali ini menurut data merupakan pemilu yang "membangkitkan" karena angka "golput" menurun. Sebabnya kami selaku rakyat optimis peminpin yang sekarang terpilih baik di eksekutif maupun yudikatif adalah orang-orang yang jujur, amanah dan memiliki tekad yang kuat untuk mensejahterakan rakyat dan membela kepentingan rakyat.
Jika begini terus bagaimana mau bergerak roda ekonomi? Bisa-bisa dapur kami tidak "ngebul" karena pendapatan kami "terpukul" ketidak pastian iklim ekonomi. Kami ibu rumah tangga hanya mengenal suhu dapur, tak banyak mengetahui akan "suhu politik". Namun selaku seorang ibu dan istri, insting kami mengatakan akan ada gejolak harga yang berujung semrawutnya harga-harga kebutuhan pokok. Yang berujung berkurangnya pasokan "gizi" untuk anggota keluarga kami karena lemahnya daya beli.
Bagaikan status "rumit" seperti tergambar dalam facebook, seperti itulah yang tercermin pada penghuni "senayan". Akankah status itu berubah menjadi "mesra" bergandengan tangan, bahu membahu membangun negeri ini.
Untukmu yang duduk sambil diskusi
Untukmu yang biasa bersafari
Di sana, di gedung DPR
Wakil rakyat kumpulan orang hebat
Bukan kumpulan teman teman dekat
Apalagi sanak famili
Di hati dan lidahmu kami berharap
Suara kami tolong dengar lalu sampaikan
Jangan ragu jangan takut karang menghadang
Bicaralah yang lantang jangan hanya diam
Di kantong safarimu kami titipkan
Masa depan kami dan negeri ini
Dari Sabang sampai Merauke
Saudara dipilih bukan dilotre
Meski kami tak kenal siapa saudara Kami tak sudi memilih para juara
Juara diam, juara he'eh, juara ha ha ha......
Untukmu yang duduk sambil diskusi
Untukmu yang biasa bersafari
Di sana, di gedung DPR
Di hati dan lidahmu kami berharap
Suara kami tolong dengar lalu sampaikan
Jangan ragu jangan takut karang menghadang
Bicaralah yang lantang jangan hanya diam
Wakil rakyat seharusnya merakyat
Jangan tidur waktu sidang soal rakyat
Wakil rakyat bukan paduan suara
Hanya tahu nyanyian lagu "setuju......"
Drama perseteruan perebutan kursi orang nomor satu di Indonesia belum lama usai. Ketegangan diantara dua kubu pendukung mulai mereda, perlahan tapi pasti barisan rakyat kembali pada hal yang utama, yaitu persatuan. Langkah tersebut seakan tercermin manakala "euforia" rakyat tumpah ruah ke jalan menyambut sang pemimpin baru.
Beberapa hari sebelum terjadinya peristiwa "euforia" terekam adegan mesra diantara dua pemimpin dari masing-masing kubu yang "bertikai". Adegan itu laksana sang fajar yang mengecup mawar di kemuning pagi yang merekah. Angin sejuk pun menghantar hawa perdamaian.
Adegan kemesraan itu tidak berakhir sampai disitu. Tepat pada saat "Sang Raja" naik tahta dan bersumpah di saksikan para "Dewan Terhormat" dan dipersaksikan perwakilan dari negara sahabat. Masih terekam jelas benih persahabatan dari pemimpin maupun "tim anggota pesorak" mewarnai hari bersejarah bagi negeri Indonesia.
Entah kenapa kini "hawa permusuhan" kembali menyeruak. Apakah karena neraka sedang bocor? Hingga hawa panasnya menyelimuti segenap hati "para dewan terhormat". Seperti halnya lumpur lapindo, yang tak berakhir dan tak berujung terus mengalir mengangkangi hajat kehidupan rakyat "Sidoarjo". Yang harus menderita bukan karena ulah mereka, namun ulah "seorang" yang berhati serakah.
"Pertikaian" yang bagaikan sebuah dagelan tidak lucu kini sedang dipertonton oleh "wakil rakyat". Yang cukup dan sangat bikin bingung, wakil rakyat yang mana? Dan rakyat mana yang terwakili, bila perrikaian terus berlanjut. Bagaimana akan menyuarakan "suara rakyat" yang sudah memberikan hak suara, hak politiknya dengan memilih "tuan-tuan dan nyonya-nyonya" yang terhormat. Kapan Anda akan memulai kerja untuk rakyat?.
Padahal pemilu kali ini menurut data merupakan pemilu yang "membangkitkan" karena angka "golput" menurun. Sebabnya kami selaku rakyat optimis peminpin yang sekarang terpilih baik di eksekutif maupun yudikatif adalah orang-orang yang jujur, amanah dan memiliki tekad yang kuat untuk mensejahterakan rakyat dan membela kepentingan rakyat.
Jika begini terus bagaimana mau bergerak roda ekonomi? Bisa-bisa dapur kami tidak "ngebul" karena pendapatan kami "terpukul" ketidak pastian iklim ekonomi. Kami ibu rumah tangga hanya mengenal suhu dapur, tak banyak mengetahui akan "suhu politik". Namun selaku seorang ibu dan istri, insting kami mengatakan akan ada gejolak harga yang berujung semrawutnya harga-harga kebutuhan pokok. Yang berujung berkurangnya pasokan "gizi" untuk anggota keluarga kami karena lemahnya daya beli.
Bagaikan status "rumit" seperti tergambar dalam facebook, seperti itulah yang tercermin pada penghuni "senayan". Akankah status itu berubah menjadi "mesra" bergandengan tangan, bahu membahu membangun negeri ini.
Untukmu yang duduk sambil diskusi
Untukmu yang biasa bersafari
Di sana, di gedung DPR
Wakil rakyat kumpulan orang hebat
Bukan kumpulan teman teman dekat
Apalagi sanak famili
Di hati dan lidahmu kami berharap
Suara kami tolong dengar lalu sampaikan
Jangan ragu jangan takut karang menghadang
Bicaralah yang lantang jangan hanya diam
Di kantong safarimu kami titipkan
Masa depan kami dan negeri ini
Dari Sabang sampai Merauke
Saudara dipilih bukan dilotre
Meski kami tak kenal siapa saudara Kami tak sudi memilih para juara
Juara diam, juara he'eh, juara ha ha ha......
Untukmu yang duduk sambil diskusi
Untukmu yang biasa bersafari
Di sana, di gedung DPR
Di hati dan lidahmu kami berharap
Suara kami tolong dengar lalu sampaikan
Jangan ragu jangan takut karang menghadang
Bicaralah yang lantang jangan hanya diam
Wakil rakyat seharusnya merakyat
Jangan tidur waktu sidang soal rakyat
Wakil rakyat bukan paduan suara
Hanya tahu nyanyian lagu "setuju......"
Label:
SEBUAH CATATAN
5.11.14
Ambilkan bulan bu....ambilkan bulan bu...
Untuk menerangi tidur ku dimalam gelap...
Dimalam bulan bercahya...cahyanya sampai ke bintang.....
Begitulah beberapa lirik lagu anak-anak tempo dulu, yang menggunakan beberapa simbolik dan pengajaran sebuah pengetahuan. Syair-syairnya penuh makna yang dalam, dengan penyampaian yang sangat sederhana. Dalam syair di atas terdapat sebuah mimpi yang tidak mungkin dapat terwujud dimana seorang anak meminta di ambilkan bulan untuk menemani tidurnya. Jika diperhatikan sebenarnya ini adalah sebuah simbol yang memberikan semangat kepada kita, untuk menanamkan "mimpi" atau cita-cita setinggi bulan disana. Selain itu simbolik yang diajarkan kedua adalah selalu berbagi dan memberi dimana "cahaya bulan sampai ke bintang" adalah memberikan sebuah pengertian agar kita selalu berbagi tanpa berharap kembali. Seperti bulan yang memberi cahaya baik kepada bumi beserta isinya maupun kepada bintang yang jauh di jagat raya.
Masih banyak lagi syair-syair lagu anak-anak tempo dulu yang bagus dan syarat akan makna "perjuangan hidup". Menanamkan budaya "tanamkan mimpi" dan raih mimpi dengan sejuta aksi sejak usia dini adalah sangat baik dilakukan. Tentunya penyampaiannya harus disesuaikan dengan "bahasa" yang mudah dimengerti oleh anak-anak. Media yang ampuh adalah lewat sebuah lagu, dengan lirik yang sederhana namun mudah dicerna dan tentu saja mudah pula di ingat.
Coba kita perhatikan syair lagu anak berikut ini:
Ku ambil buluh sebatang
Ku potong sama panjang
Ku raut dan ku timbang dengan benang.
Ku jadikan layang-layang.....
Begitu sarat dengan makna, syair yang sederhana namun kaya akan prinsip hidup. Dimana dalam syair ini di ajarkan untuk melakukan, mengerjakan dan mengekspolitir daya kreatif dalam mencipta atau menghasilkan sebuah produk. Sebuah pengajaran telah disampaikan dengan bahasa sederhana tentang prinsip dalam menjalani kehidupan. Bahwa tidak ada yang instan di dalam sebuah proses kehidupan. Sukses yang ingin di raih tidak ada jalan instan, kesuksesan hanya dapat terwujud dengan aksi.
Dalam membuat layang-layang seperti penggalan syair diatas, melalui beberapa proses dan di butuhkan kecermatan, ketelitian dan kreativitas untuk membuat sebuah layang-layang yang sempurna serta dapat diterbangkan. Sungguh luar biasa penulis syair lagu anak-anak tempo dulu. Dengan syair yang mudah dan sederhana namun syarat akan pengajaran tentang kehidupan. Hingga kini pun yakin anak-anak yang lahir era tahun 70-an masih mengingat lagu-lagu tempo dulu. Dimana pada masa itu statsiun televisi yang ada hanya satu yaitu TVRI memiliki program penayangan khusus anak di sore hari. Selain itu Radio Republik Indonesia atau RRI pun memiliki program khusus untuk anak, yang setia mengudarakan lagu-lagu anak yang bagi saya pribadi adalah sangat dasyat.
Menanamkan dan mengajarkan nilai-nilai luhur sejak usia dini melalui lagu sederhana dan mudah di ingat, adalah hal yang sangat bagus dan merupakan ide yang sangat brilian serta cerdas. Penulis lagu anak-anak tempo dulu luarbiasa cerdas karena dapat menyisipkan nilai-nilai kehidupan disetiap bait syairnya yang indah. Dengan lagu penyampaian akan nilai-nilai hidup akan mudah di ingat oleh anak-anak.
Mengajarkan Nilai Kehidupan Lewat Syair Sederhana
Written By Unknown on 5.11.14 | 5.11.14
Ambilkan bulan bu....ambilkan bulan bu...
Untuk menerangi tidur ku dimalam gelap...
Dimalam bulan bercahya...cahyanya sampai ke bintang.....
Begitulah beberapa lirik lagu anak-anak tempo dulu, yang menggunakan beberapa simbolik dan pengajaran sebuah pengetahuan. Syair-syairnya penuh makna yang dalam, dengan penyampaian yang sangat sederhana. Dalam syair di atas terdapat sebuah mimpi yang tidak mungkin dapat terwujud dimana seorang anak meminta di ambilkan bulan untuk menemani tidurnya. Jika diperhatikan sebenarnya ini adalah sebuah simbol yang memberikan semangat kepada kita, untuk menanamkan "mimpi" atau cita-cita setinggi bulan disana. Selain itu simbolik yang diajarkan kedua adalah selalu berbagi dan memberi dimana "cahaya bulan sampai ke bintang" adalah memberikan sebuah pengertian agar kita selalu berbagi tanpa berharap kembali. Seperti bulan yang memberi cahaya baik kepada bumi beserta isinya maupun kepada bintang yang jauh di jagat raya.
Masih banyak lagi syair-syair lagu anak-anak tempo dulu yang bagus dan syarat akan makna "perjuangan hidup". Menanamkan budaya "tanamkan mimpi" dan raih mimpi dengan sejuta aksi sejak usia dini adalah sangat baik dilakukan. Tentunya penyampaiannya harus disesuaikan dengan "bahasa" yang mudah dimengerti oleh anak-anak. Media yang ampuh adalah lewat sebuah lagu, dengan lirik yang sederhana namun mudah dicerna dan tentu saja mudah pula di ingat.
Coba kita perhatikan syair lagu anak berikut ini:
Ku ambil buluh sebatang
Ku potong sama panjang
Ku raut dan ku timbang dengan benang.
Ku jadikan layang-layang.....
Begitu sarat dengan makna, syair yang sederhana namun kaya akan prinsip hidup. Dimana dalam syair ini di ajarkan untuk melakukan, mengerjakan dan mengekspolitir daya kreatif dalam mencipta atau menghasilkan sebuah produk. Sebuah pengajaran telah disampaikan dengan bahasa sederhana tentang prinsip dalam menjalani kehidupan. Bahwa tidak ada yang instan di dalam sebuah proses kehidupan. Sukses yang ingin di raih tidak ada jalan instan, kesuksesan hanya dapat terwujud dengan aksi.
Dalam membuat layang-layang seperti penggalan syair diatas, melalui beberapa proses dan di butuhkan kecermatan, ketelitian dan kreativitas untuk membuat sebuah layang-layang yang sempurna serta dapat diterbangkan. Sungguh luar biasa penulis syair lagu anak-anak tempo dulu. Dengan syair yang mudah dan sederhana namun syarat akan pengajaran tentang kehidupan. Hingga kini pun yakin anak-anak yang lahir era tahun 70-an masih mengingat lagu-lagu tempo dulu. Dimana pada masa itu statsiun televisi yang ada hanya satu yaitu TVRI memiliki program penayangan khusus anak di sore hari. Selain itu Radio Republik Indonesia atau RRI pun memiliki program khusus untuk anak, yang setia mengudarakan lagu-lagu anak yang bagi saya pribadi adalah sangat dasyat.
Menanamkan dan mengajarkan nilai-nilai luhur sejak usia dini melalui lagu sederhana dan mudah di ingat, adalah hal yang sangat bagus dan merupakan ide yang sangat brilian serta cerdas. Penulis lagu anak-anak tempo dulu luarbiasa cerdas karena dapat menyisipkan nilai-nilai kehidupan disetiap bait syairnya yang indah. Dengan lagu penyampaian akan nilai-nilai hidup akan mudah di ingat oleh anak-anak.
Label:
SEBUAH CATATAN
3.11.14
Keseimbangan merupakan rahasia dari perjalanan hidup yang menyenangkan. Persis seperti selalu ada dua cara di mana pejalan yang tegang dapat jatuh, entah itu ke kiri atau ke kanan, begitulah cara-Nya dalam membentuk diri kita. Pada setiap titik di mana suatu kebijakan harus dibentuk atau arus tindakan direncanakan, dua ekstrem dari keberpihakan harus dihindari.
Namun, sayangnya kita selaku orang-orang yang percaya akan adanya yang mengatur dan merencanakan kehidupan terkadang menghindari ekstrem itu. Kita ibarat sebuah pendulum, terus-menerus bergerak dari satu ekstrem ke ekstrem yang lain. Kita melihat, atau mengira melihat sesuatu yang tidak suka dan kita mundur dari padanya seperti kita melihat ular di rumput. Kita menetapkan tatapan kita padanya sementara kita menjaga jarak antara dia dengan kita sejauh-jauhnya. Berjalan mundur dalam cara ini, kita segera mencapai ekstrem yang berlawanan dengan rencana perjalanan semula. Jadi, keberpihakan dari satu macam menimbulkan keberpihakan dari macam yang berlawanan.
Seperti itulah kita manakala melihat keburukan hadir di tengah kehidupan, kita menjerit dan siap berlari untuk menjauh. Padahal apa yang dilihat buruk oleh manusia tidaklah buruk bagi Tuhan. Apa yang dilihat baik oleh manusia, belum pasti baik bagi Tuhan. Dia merancang dan merencanakan perjalanan kehidupan manusia, yang semuanya adalah baik bagi manusia. Rencana-Nya pasti indah untuk manusia pada waktu-Nya bukan waktu menurut hasrat manusia.
Rencana Tuhan Indah Pada Waktu-Nya
Written By Unknown on 3.11.14 | 3.11.14
Keseimbangan merupakan rahasia dari perjalanan hidup yang menyenangkan. Persis seperti selalu ada dua cara di mana pejalan yang tegang dapat jatuh, entah itu ke kiri atau ke kanan, begitulah cara-Nya dalam membentuk diri kita. Pada setiap titik di mana suatu kebijakan harus dibentuk atau arus tindakan direncanakan, dua ekstrem dari keberpihakan harus dihindari.
Namun, sayangnya kita selaku orang-orang yang percaya akan adanya yang mengatur dan merencanakan kehidupan terkadang menghindari ekstrem itu. Kita ibarat sebuah pendulum, terus-menerus bergerak dari satu ekstrem ke ekstrem yang lain. Kita melihat, atau mengira melihat sesuatu yang tidak suka dan kita mundur dari padanya seperti kita melihat ular di rumput. Kita menetapkan tatapan kita padanya sementara kita menjaga jarak antara dia dengan kita sejauh-jauhnya. Berjalan mundur dalam cara ini, kita segera mencapai ekstrem yang berlawanan dengan rencana perjalanan semula. Jadi, keberpihakan dari satu macam menimbulkan keberpihakan dari macam yang berlawanan.
Seperti itulah kita manakala melihat keburukan hadir di tengah kehidupan, kita menjerit dan siap berlari untuk menjauh. Padahal apa yang dilihat buruk oleh manusia tidaklah buruk bagi Tuhan. Apa yang dilihat baik oleh manusia, belum pasti baik bagi Tuhan. Dia merancang dan merencanakan perjalanan kehidupan manusia, yang semuanya adalah baik bagi manusia. Rencana-Nya pasti indah untuk manusia pada waktu-Nya bukan waktu menurut hasrat manusia.
Label:
SEBUAH CATATAN
2.11.14
Pikiran Adalah Sebuah Ladang
Written By Unknown on 2.11.14 | 2.11.14
Sumber gambar : t0.gstatic.com
Tuhan memberi kita sebidang tanah yang tak terhingga pada diri kita. Sebidang tanah yang diletakkan dalam "otak" kita, sebidang tanah itu adalah pikiran. Pikiran ibarat sebuah ladang yang harus kita garap, rawat dan diberi pupuk agar "lahan" itu menghasilkan buah kala kita tanam.
Pikiran yang dipelihara seseorang adalah hal-hal yang dinikmati seseorang, dan apa yang dinikmati seseorang mengungkapkan siapa orang itu. Jika kita memelihara pikiran-pikiran yang baik, jujur, adil, suci, indah dan benar, maka tidak tersisa banyak waktu bagi kita untuk memikirkan hal-hal yang jahat. Dengan kata lain, kalau kita mengisi pikiran kita dengan hal-hal yang suci, kita mengusir keluar hal-hal yang kotor.
Jika kita perhatikan arti kata "berpikir" dalam bahasa inggris akan kita dapati bahwa kata "think" (berpikir) dan "thank" (berterima kasih) berasal dari akar yang sama. Mereka yang "berpikir" benar akan ingin "berterima kasih" karena "apa yang dipikirkan seseorang di dalam hatinya, itulah yang akan terungkap". Saat kita memikirkan berkat-berkat kita, hati kita yakin akan melimpah dengan ucapan "syukur". Tapi bagaimana jika sebaliknya?.
Seseorang yang sudah dewasa, matang dalam cara berpikirnya pastilah ia akan selalu mengucap "terima kasih" atas sesuatu yang diterimanya. Bukan saja kepada manusia seharusnya kepada Tuhan yang telah memelihara kita, harusnya kita selalu "berterima kasih" baik itu ketika suami atau pasangan kita gagal memperoleh kenaikan gaji atau juga gagal dalam usahanya. Juga manakala anak kita memperoleh nilai yang "jelek" dalam sekolahnya. Intinya baik hal yang "buruk" menimpa, kita tetap "bersyukur" kepada Tuhan.
Apabila masalah bertumpuk di sekeliling kita, kita bisa dengan mudah melupakan bahwa Ia mengetahui akhir dari awal, dan bahwa hal ini akan bekerja untuk kebaikan kita, tidak peduli segelap apa keadaan pada saat itu. Kita lupa bahwa seseorang harus menderita sebelum bisa sembuh.
Jika rasa syukur kita hanya bergantung pada keadaan luar, maka itu tidak mengisi tempat yang permanen dalam hidup kita. Apabila angin kesulitan hidup bertiup, dan kita berada dalam masalah dan membutuhkan pertolongan, serta masih bisa berkata "Terima kasih" pada Tuhan, itulah sejatinya diri kita yang hanya bergantung pada-Nya.
Apakah Anda kesepian? Ataukah Anda haus dan lapar?. Pernahkah Dia tinggalkan dalam kesukaran?.
Sudahkah kita mengucap "Terima Kasih" pada Tuhan, atas kehangatan sinar matahari, sejuknya udara pagi, keharuman wangi bunga atau indahnya kasih sayang seorang anak?
Tuhan memberi kita sebidang tanah yang tak terhingga pada diri kita. Sebidang tanah yang diletakkan dalam "otak" kita, sebidang tanah itu adalah pikiran. Pikiran ibarat sebuah ladang yang harus kita garap, rawat dan diberi pupuk agar "lahan" itu menghasilkan buah kala kita tanam.
Pikiran yang dipelihara seseorang adalah hal-hal yang dinikmati seseorang, dan apa yang dinikmati seseorang mengungkapkan siapa orang itu. Jika kita memelihara pikiran-pikiran yang baik, jujur, adil, suci, indah dan benar, maka tidak tersisa banyak waktu bagi kita untuk memikirkan hal-hal yang jahat. Dengan kata lain, kalau kita mengisi pikiran kita dengan hal-hal yang suci, kita mengusir keluar hal-hal yang kotor.
Jika kita perhatikan arti kata "berpikir" dalam bahasa inggris akan kita dapati bahwa kata "think" (berpikir) dan "thank" (berterima kasih) berasal dari akar yang sama. Mereka yang "berpikir" benar akan ingin "berterima kasih" karena "apa yang dipikirkan seseorang di dalam hatinya, itulah yang akan terungkap". Saat kita memikirkan berkat-berkat kita, hati kita yakin akan melimpah dengan ucapan "syukur". Tapi bagaimana jika sebaliknya?.
Seseorang yang sudah dewasa, matang dalam cara berpikirnya pastilah ia akan selalu mengucap "terima kasih" atas sesuatu yang diterimanya. Bukan saja kepada manusia seharusnya kepada Tuhan yang telah memelihara kita, harusnya kita selalu "berterima kasih" baik itu ketika suami atau pasangan kita gagal memperoleh kenaikan gaji atau juga gagal dalam usahanya. Juga manakala anak kita memperoleh nilai yang "jelek" dalam sekolahnya. Intinya baik hal yang "buruk" menimpa, kita tetap "bersyukur" kepada Tuhan.
Apabila masalah bertumpuk di sekeliling kita, kita bisa dengan mudah melupakan bahwa Ia mengetahui akhir dari awal, dan bahwa hal ini akan bekerja untuk kebaikan kita, tidak peduli segelap apa keadaan pada saat itu. Kita lupa bahwa seseorang harus menderita sebelum bisa sembuh.
Jika rasa syukur kita hanya bergantung pada keadaan luar, maka itu tidak mengisi tempat yang permanen dalam hidup kita. Apabila angin kesulitan hidup bertiup, dan kita berada dalam masalah dan membutuhkan pertolongan, serta masih bisa berkata "Terima kasih" pada Tuhan, itulah sejatinya diri kita yang hanya bergantung pada-Nya.
Apakah Anda kesepian? Ataukah Anda haus dan lapar?. Pernahkah Dia tinggalkan dalam kesukaran?.
Sudahkah kita mengucap "Terima Kasih" pada Tuhan, atas kehangatan sinar matahari, sejuknya udara pagi, keharuman wangi bunga atau indahnya kasih sayang seorang anak?
Label:
SEBUAH CATATAN
31.10.14
Pasang Surut Kehidupan
Written By Unknown on 31.10.14 | 31.10.14
Sumber gambar: t3.gstatic.com
Apa yang kita rasakan disaat kemudahan hidup hinggap dalam "kehidupan"?. Tentunya perasaan "gundah" tak nampak "sebulir"pun dalam hati ini. "So happy now" itulah ungkapan yang ada dan terkadang me-lenakan hati. Namun manakala "kesempitan" tengah melanda, yang pasti "gulandah" itu akan hadir menyelimuti hari.
Seseorang pernah berkata "Bukan soal apa yang terjadi pada Anda, tetapi bagaimana cara Anda menanganinyalah yang penting!" Bisakah Anda "menerimanya?" Kehidupan bisa tertangani ketika semua berjalan baik, tetapi apa yang kita lakukan ketika semua kemalangan melanda? Baru saat itulah kita menunjukkan warna asli kita. Betapa mudahnya berpikir bahwa beban orang lain ringan, sementara beban kita berat. Terlalu sering itu hanyalah khayalan kita, bukannya nasib kita.
Cobalah kita "rehat" sejenak dan melihat serta mendengar apa yang terjadi disekeliling kita?. Informasi yang begitu cepat dapat kita akses membawa kabar berita yang beragam. Seperti halnya perilaku beberapa orang baik golongan elit maupun "pesohor" yang tampak terlihat banyak "kemudahan" ternyata rapuh, manakala diterpa badai kemalangan. Hingga ada yang terjerat "bius setan narkoba" yang membawanya untuk menghilangkan kemalangan. Padahal barang-barang tersebut adalah semu dan tidak menghilangkan "masalah" malah menambah "penyakit". Atau bagaimana "frustasi" melanda kerapuhan hingga banyak yang terdorong melakukan hal yang diluar nalar. Haruskah "kemalangan" yang sedang "hinggap" di tangani dengan rasa "frustasi"?.
Ketika "kemalangan" harus ditelan, berontak hanya akan merugikan dan menyakiti. Seperti pohon meliuk mengikuti angin, begitu juga seharusnya kita di hadapan kemalangan. Menggerutu dan frustasi adalah kebiasaan buruk bagi orang yang percaya akan Tuhan, dan ketika kita mengeluh, kita melewatkan berkat. Pelangi akan mengikuti hujan sepasti Tuhan yang selalu memelihara alam beserta isi-Nya. Dan setiap malam akan merekah menjadi fajar.
Apa yang kita rasakan disaat kemudahan hidup hinggap dalam "kehidupan"?. Tentunya perasaan "gundah" tak nampak "sebulir"pun dalam hati ini. "So happy now" itulah ungkapan yang ada dan terkadang me-lenakan hati. Namun manakala "kesempitan" tengah melanda, yang pasti "gulandah" itu akan hadir menyelimuti hari.
Seseorang pernah berkata "Bukan soal apa yang terjadi pada Anda, tetapi bagaimana cara Anda menanganinyalah yang penting!" Bisakah Anda "menerimanya?" Kehidupan bisa tertangani ketika semua berjalan baik, tetapi apa yang kita lakukan ketika semua kemalangan melanda? Baru saat itulah kita menunjukkan warna asli kita. Betapa mudahnya berpikir bahwa beban orang lain ringan, sementara beban kita berat. Terlalu sering itu hanyalah khayalan kita, bukannya nasib kita.
Cobalah kita "rehat" sejenak dan melihat serta mendengar apa yang terjadi disekeliling kita?. Informasi yang begitu cepat dapat kita akses membawa kabar berita yang beragam. Seperti halnya perilaku beberapa orang baik golongan elit maupun "pesohor" yang tampak terlihat banyak "kemudahan" ternyata rapuh, manakala diterpa badai kemalangan. Hingga ada yang terjerat "bius setan narkoba" yang membawanya untuk menghilangkan kemalangan. Padahal barang-barang tersebut adalah semu dan tidak menghilangkan "masalah" malah menambah "penyakit". Atau bagaimana "frustasi" melanda kerapuhan hingga banyak yang terdorong melakukan hal yang diluar nalar. Haruskah "kemalangan" yang sedang "hinggap" di tangani dengan rasa "frustasi"?.
Ketika "kemalangan" harus ditelan, berontak hanya akan merugikan dan menyakiti. Seperti pohon meliuk mengikuti angin, begitu juga seharusnya kita di hadapan kemalangan. Menggerutu dan frustasi adalah kebiasaan buruk bagi orang yang percaya akan Tuhan, dan ketika kita mengeluh, kita melewatkan berkat. Pelangi akan mengikuti hujan sepasti Tuhan yang selalu memelihara alam beserta isi-Nya. Dan setiap malam akan merekah menjadi fajar.
Label:
SEBUAH CATATAN
30.10.14
Bersukacita Dalam Hidup
Written By Unknown on 30.10.14 | 30.10.14
Sumber gambar: t3.gstatic.com
Sukacita bukanlah hal yang sama dengan sikap acuh. Coba Anda perhatikan ragam iklan yang menggambarkan tentang suasana liburan di sebuah pantai, tampak terlihat bagaimana keceriaan mereka dan seakan-akan mereka berkata "mari tinggalkan segala sesuatu, dan bersenang-senanglah" yah! Dalam liburan adalah satu resepnya yaitu sukacita. Yakin banyak orang setuju dengan hal ini.
Namun, sukacita bukanlah hal yang sama dengan "kesenangan", yaitu, kegembiraan yang riang dari seseorang yang selalu merupakan suatu pesta, orang yang dapat diandalkan untuk senda gurau dan keriangan umum dan tentangnya orang mengatakan tidak pernah ada waktu yang membosankan ketika orang itu ada.
Orang mungkin mempunyai temperamen yang gembira meskipun demikian kehilangan sukacita. Atau orang mungkin seorang yang pendiam dengan wajah melankolis meskipun demikian ia mempunyai sukacita yang berkelimpahan. Namun bukanlah seperti itu, sukacita merupakan kebiasaan hati, dimasukkan dan ditopang sebagai mutu yang menetap dari hidup seseorang melalui disiplin bersukacita. Sukacita bukanlah kecelakaan temperamen atau pemeliharaan yang tidak dapat diramalkan; sukacita adalah sebuah pilihan dalam menjalani kehidupan.
Coba Anda perhatikan saat sukacita menghampiri, Anda dengan bebas berteriak, melompat dan menari penuh bahagia; sukacita mengubah sekedar eksistensi menjadi hidup yang sesungguhnya. Sukacita menghasilkan air mata, dan ketika Anda menangis karena sukacita, itu bukanlah gambaran kesedihan.
Coba perhatikan sekali lagi, masih ingatkah Anda pada saat anak Anda diusia tujuh atau delapan tahun berguling-guling di lantai dengan mata penuh air mata, lantas mengatakan, "Ayah atau ibu aku sangat bahagia! Aku begitu bahagia!" Dengan penuh kegirangan dan kebahagiaan ia luapkan sukacitanya. Mengapa demikian? Pada saat itu untuk pertama kalinya ia dapat mengalahkan Anda dalam sebuah permainan misalnya.
Sukacita-sukacita kanak-kanak yang begitu alami mengapa kala dewasa tak lagi dapat muncul? Apakah kebahagiaan yang sederhana itu harus hilang begitu saja, padahal hidup adalah sukacita. Hanya dengan sukacita beban hidup tak terasa dan dapat berlalu. Sukacita merupakan salah satu inti dari kehidupan yang mendatangkan kebahagiaan dan hanya orang yang selalu menghidupkan "sukacita" di dalam hatinya yang akan mendapatkan "mudahnya" menjalani hidup ini. Bersukacitalah dalam sepanjang hidup Anda maka berkat itu akan berlimpah dalam kehidupan.
Sukacita bukanlah hal yang sama dengan sikap acuh. Coba Anda perhatikan ragam iklan yang menggambarkan tentang suasana liburan di sebuah pantai, tampak terlihat bagaimana keceriaan mereka dan seakan-akan mereka berkata "mari tinggalkan segala sesuatu, dan bersenang-senanglah" yah! Dalam liburan adalah satu resepnya yaitu sukacita. Yakin banyak orang setuju dengan hal ini.
Namun, sukacita bukanlah hal yang sama dengan "kesenangan", yaitu, kegembiraan yang riang dari seseorang yang selalu merupakan suatu pesta, orang yang dapat diandalkan untuk senda gurau dan keriangan umum dan tentangnya orang mengatakan tidak pernah ada waktu yang membosankan ketika orang itu ada.
Orang mungkin mempunyai temperamen yang gembira meskipun demikian kehilangan sukacita. Atau orang mungkin seorang yang pendiam dengan wajah melankolis meskipun demikian ia mempunyai sukacita yang berkelimpahan. Namun bukanlah seperti itu, sukacita merupakan kebiasaan hati, dimasukkan dan ditopang sebagai mutu yang menetap dari hidup seseorang melalui disiplin bersukacita. Sukacita bukanlah kecelakaan temperamen atau pemeliharaan yang tidak dapat diramalkan; sukacita adalah sebuah pilihan dalam menjalani kehidupan.
Coba Anda perhatikan saat sukacita menghampiri, Anda dengan bebas berteriak, melompat dan menari penuh bahagia; sukacita mengubah sekedar eksistensi menjadi hidup yang sesungguhnya. Sukacita menghasilkan air mata, dan ketika Anda menangis karena sukacita, itu bukanlah gambaran kesedihan.
Coba perhatikan sekali lagi, masih ingatkah Anda pada saat anak Anda diusia tujuh atau delapan tahun berguling-guling di lantai dengan mata penuh air mata, lantas mengatakan, "Ayah atau ibu aku sangat bahagia! Aku begitu bahagia!" Dengan penuh kegirangan dan kebahagiaan ia luapkan sukacitanya. Mengapa demikian? Pada saat itu untuk pertama kalinya ia dapat mengalahkan Anda dalam sebuah permainan misalnya.
Sukacita-sukacita kanak-kanak yang begitu alami mengapa kala dewasa tak lagi dapat muncul? Apakah kebahagiaan yang sederhana itu harus hilang begitu saja, padahal hidup adalah sukacita. Hanya dengan sukacita beban hidup tak terasa dan dapat berlalu. Sukacita merupakan salah satu inti dari kehidupan yang mendatangkan kebahagiaan dan hanya orang yang selalu menghidupkan "sukacita" di dalam hatinya yang akan mendapatkan "mudahnya" menjalani hidup ini. Bersukacitalah dalam sepanjang hidup Anda maka berkat itu akan berlimpah dalam kehidupan.
Label:
SEBUAH CATATAN
27.10.14
Pandailah Mengendalikan Diri
Written By Unknown on 27.10.14 | 27.10.14
Bagi Anda yang tinggal di kota besar tentunya pemandangan macet sudah menjadi gambaran sehari-hari. Tentunya hal ini menjadikan Anda cepat mengalami kelelahan dan akhirnya mendapati diri ini menjadi "stres". Anda terjebak dalam kemacetan, ini bukan kesalahan Anda! Ataupun kesalahan orang lain! Anda memiliki dua pilihan mengumpat dan marah-marah, atau memikirkan apa yang dapat Anda lakukan untuk menjadi lebih sukses, bahagia, dan puas.
Perlu diketahui bahwa kita tidak dapat mengubah arah angin, tetapi kita dapat mengatur layar perahu. Dalam mengahadapi kemacetan ini yang dapat Anda lakukan adalah rileks dan nikmati! Rileks! Bahkan lampu merah pun telah berkata demikian! Percayalah langit tidak akan runtuh karenanya.
Jangan pernah berputus asa. Percayalah pada diri Anda, hargai diri Anda, bukan dengan keangkuhan melainkan dengan kerendahan hati, kepercayaan diri yang realitas. Kerahkan segala daya upaya, maka Anda akan berkelimpahan.
Dalam hal ini, petiklah pelajaran untuk selalu berangkat lebih awal dan mengantisipasi berbagai kemungkinan. Kalaupun Anda sungguh-sungguh terlambat, maka belajarlah dari kesalahan. Jika takdir memberi Anda sebuah jeruk yang asam, buatlah menjadi sari buah jeruk yang nikmat! Pertahankan keyakinan Anda, kendalikan emosi, dan berpikirlah kreatif dalam segala situasi. Selalu gunakan pikiran jernih maka Anda akan beroleh solusi yang "bening".
Perlu diketahui bahwa kita tidak dapat mengubah arah angin, tetapi kita dapat mengatur layar perahu. Dalam mengahadapi kemacetan ini yang dapat Anda lakukan adalah rileks dan nikmati! Rileks! Bahkan lampu merah pun telah berkata demikian! Percayalah langit tidak akan runtuh karenanya.
Jangan pernah berputus asa. Percayalah pada diri Anda, hargai diri Anda, bukan dengan keangkuhan melainkan dengan kerendahan hati, kepercayaan diri yang realitas. Kerahkan segala daya upaya, maka Anda akan berkelimpahan.
Dalam hal ini, petiklah pelajaran untuk selalu berangkat lebih awal dan mengantisipasi berbagai kemungkinan. Kalaupun Anda sungguh-sungguh terlambat, maka belajarlah dari kesalahan. Jika takdir memberi Anda sebuah jeruk yang asam, buatlah menjadi sari buah jeruk yang nikmat! Pertahankan keyakinan Anda, kendalikan emosi, dan berpikirlah kreatif dalam segala situasi. Selalu gunakan pikiran jernih maka Anda akan beroleh solusi yang "bening".
Label:
SEBUAH CATATAN
27.10.14
Kemuning Fajar Harapan Baru
Sumber gambar: t2.gstatic.com
Saat malam menjelang, bunga melihat daun-daunnya lalu tersungkur tidur sambil mendekap rindunya. Manakala pagi menyambangi, ia membuka bibirnya demi menyambut kecupan sang kemuning fajar. Seperti hari biasa aku sibak tirai, dan mengintip lelaki tua diseberang taman yang senantiasa diam bersimpuh menyatu dengan energi alam pagi. Lelaki tua dengan penyanggah tumpuan badannya, namun pagi ini ada yang berbeda dari biasanya, ia tidak berdiam namun dengan suaranya yang terbata ia berteriak pada sang fajar....
"Tak akan kutukar duka lara hatiku dengan suka cita manusia. Aku rela bila air mata yang mengucur dari setiap kesedihan diri menjadi tawa. Biarlah hidupku berkubang air mata dan senyuman. Air mata yang menyucikan hidupku dan membuatku mengerti dan faham akan rahasia-rahasia hidup dan misterinya. Sejuta senyuman yang mendekatkanku pada orang-orang tercinta serta menjadi lambang pengagunganku terhadap Tuhan. Sejuta air mata yang memadukanku dengan orang-orang yang terpinggirkan dan patah hati. Senyuman yang menjadi tanda kebahagianku akan keberadaanku"
Kemudian, "Lebih baik aku mati membawa rindu daripada hidup menanggung jemu. Ingin kurasakan kelaparan cinta pada kecuraman palung jiwaku, karena aku muak melihat mereka yang telah puas adalah manusia paling celaka dan paling dekat pada materi. Aku mendengar dan aku menyimak desahan pecinta yang melebihi merdu rintihan apa pun"
Aku termenung dan terhenyak akan perkataan lelaki tua tersebut, aku menerawang alam benakku mengapa ia muak dengan pengejaran "materi"?. Apa yang salah dengan materi? Bukankah hidup butuh materi? Bukankah "money can buy everything"? Kita bangun pagi, bergegas untuk kerja keras dan mendapatkan "materi"?....Apa yang salah dengan materi? Begitu benakku bertanya....
Apakah hidup untuk "materi" ataukah "materi" untuk hidup? Mengejar materi adalah hal yang tidak salah, tetapi alangkah bijaknya bila menjemput keberkahan-Nya. Karena berkat-Nya senantiasa berlimpah bahkan kita akan selalu kelimpahan....Mungkin itulah maksud "lelaki tua" itu agar aku senantiasa mencari keberkahan-Nya bukan "memuaskan" ke-akuan dan kebutuhan sesaat yang tak akan pernah ada habisnya. Hidup bukan semata mempertahankan hidup, namun hidup harus "menghidupkan" kehidupan ini dengan "pelayanan" kita kepada Tuhan sebagai wujud syukur atas setiap detik anugerah yang Dia berikan...(sebuah catatan di kala fajar)
Saat malam menjelang, bunga melihat daun-daunnya lalu tersungkur tidur sambil mendekap rindunya. Manakala pagi menyambangi, ia membuka bibirnya demi menyambut kecupan sang kemuning fajar. Seperti hari biasa aku sibak tirai, dan mengintip lelaki tua diseberang taman yang senantiasa diam bersimpuh menyatu dengan energi alam pagi. Lelaki tua dengan penyanggah tumpuan badannya, namun pagi ini ada yang berbeda dari biasanya, ia tidak berdiam namun dengan suaranya yang terbata ia berteriak pada sang fajar....
"Tak akan kutukar duka lara hatiku dengan suka cita manusia. Aku rela bila air mata yang mengucur dari setiap kesedihan diri menjadi tawa. Biarlah hidupku berkubang air mata dan senyuman. Air mata yang menyucikan hidupku dan membuatku mengerti dan faham akan rahasia-rahasia hidup dan misterinya. Sejuta senyuman yang mendekatkanku pada orang-orang tercinta serta menjadi lambang pengagunganku terhadap Tuhan. Sejuta air mata yang memadukanku dengan orang-orang yang terpinggirkan dan patah hati. Senyuman yang menjadi tanda kebahagianku akan keberadaanku"
Kemudian, "Lebih baik aku mati membawa rindu daripada hidup menanggung jemu. Ingin kurasakan kelaparan cinta pada kecuraman palung jiwaku, karena aku muak melihat mereka yang telah puas adalah manusia paling celaka dan paling dekat pada materi. Aku mendengar dan aku menyimak desahan pecinta yang melebihi merdu rintihan apa pun"
Aku termenung dan terhenyak akan perkataan lelaki tua tersebut, aku menerawang alam benakku mengapa ia muak dengan pengejaran "materi"?. Apa yang salah dengan materi? Bukankah hidup butuh materi? Bukankah "money can buy everything"? Kita bangun pagi, bergegas untuk kerja keras dan mendapatkan "materi"?....Apa yang salah dengan materi? Begitu benakku bertanya....
Apakah hidup untuk "materi" ataukah "materi" untuk hidup? Mengejar materi adalah hal yang tidak salah, tetapi alangkah bijaknya bila menjemput keberkahan-Nya. Karena berkat-Nya senantiasa berlimpah bahkan kita akan selalu kelimpahan....Mungkin itulah maksud "lelaki tua" itu agar aku senantiasa mencari keberkahan-Nya bukan "memuaskan" ke-akuan dan kebutuhan sesaat yang tak akan pernah ada habisnya. Hidup bukan semata mempertahankan hidup, namun hidup harus "menghidupkan" kehidupan ini dengan "pelayanan" kita kepada Tuhan sebagai wujud syukur atas setiap detik anugerah yang Dia berikan...(sebuah catatan di kala fajar)
Label:
SEBUAH CATATAN
24.10.14
Jangan Pelit Ucapkan Terimakasih
Written By Unknown on 24.10.14 | 24.10.14
Sumber gambar: t2.gstatic.com
Terkadang "mulut" terasa berat untuk mengucapkan kalimat sederhana ini, yaitu ucapan "terimakasih". Sebuah ucapan yang bila kita keluarkan dari hati yang tulus, akan memberikan efek yang dasyat baik bagi pendengarnya maupun pengucapnya.
Pernahkah, kita terbiasa mengucapkan kata "terimakasih" pada seorang pelayan, pedagang sayur, pedagang asongan, pedagang kue keliling atau penjual apa saja manakala kita bertransaksi atau saat diberikan uang kembalian? Walaupun pada dasarnya sudah kewajiban mereka memberikan pelayanan kepada setiap pembeli, namun tak ada salahnya kita membahagiakan diri sendiri dan orang lain lewat ucapan terimakasih.
Ucapan terimakasih sebenarnya akan membawa kebahagian pada si pengucap maupun si pendengar. Dengan adanya "bahagia" dalam diri ini maka kita sedang memperkaya diri dengan energi "positif". Semakin banyak energi positif berkumpul dalam diri maka "stres" ataupun penyakit "hati" akan jauh dari diri kita.
Apa yang keluar dari mulut kita berupa ucapan atau perkataan semua bersumber dari hati. Dengan menselaraskan pikiran dan hati untuk selalu "mengumpulkan" energi positif. Percayalah kita akan terhindar dari penyakit yang kronis. Kecuali penyakit yang kronis itu sudah ditakdirkan "hinggap" kepada kita sebagai penguji keyakinan kita.
Dengan kata "terimakasih", sebuah kalimat sederhana ini adalah salah satu cara dalam mendapatkan energi positif. Biasakanlah mengucapkan terimakasih pada hal apapun, yang dapat membantu kita dalam beroleh "umur yang panjang". (Sebuah catatan dipenghujung oktober 2014)
Terkadang "mulut" terasa berat untuk mengucapkan kalimat sederhana ini, yaitu ucapan "terimakasih". Sebuah ucapan yang bila kita keluarkan dari hati yang tulus, akan memberikan efek yang dasyat baik bagi pendengarnya maupun pengucapnya.
Pernahkah, kita terbiasa mengucapkan kata "terimakasih" pada seorang pelayan, pedagang sayur, pedagang asongan, pedagang kue keliling atau penjual apa saja manakala kita bertransaksi atau saat diberikan uang kembalian? Walaupun pada dasarnya sudah kewajiban mereka memberikan pelayanan kepada setiap pembeli, namun tak ada salahnya kita membahagiakan diri sendiri dan orang lain lewat ucapan terimakasih.
Ucapan terimakasih sebenarnya akan membawa kebahagian pada si pengucap maupun si pendengar. Dengan adanya "bahagia" dalam diri ini maka kita sedang memperkaya diri dengan energi "positif". Semakin banyak energi positif berkumpul dalam diri maka "stres" ataupun penyakit "hati" akan jauh dari diri kita.
Apa yang keluar dari mulut kita berupa ucapan atau perkataan semua bersumber dari hati. Dengan menselaraskan pikiran dan hati untuk selalu "mengumpulkan" energi positif. Percayalah kita akan terhindar dari penyakit yang kronis. Kecuali penyakit yang kronis itu sudah ditakdirkan "hinggap" kepada kita sebagai penguji keyakinan kita.
Dengan kata "terimakasih", sebuah kalimat sederhana ini adalah salah satu cara dalam mendapatkan energi positif. Biasakanlah mengucapkan terimakasih pada hal apapun, yang dapat membantu kita dalam beroleh "umur yang panjang". (Sebuah catatan dipenghujung oktober 2014)
Label:
SEBUAH CATATAN
17.10.14
Dunia Kita Yang Semu
Written By Unknown on 17.10.14 | 17.10.14
Diingatkan kita pada satu masa, kala kita bukan siapa-siapa...
Tertulis sebuah janji kesetiaan, yang tak seorangpun akan mengingatnya
Suatu janji yang senantiasa kita langgar dalam perjalanan hidup
Tidakkah kita diingatkan, sewaktu Tuhan membelah jiwa dari wujud-Nya,
Lalu menciptakan keindahan diri-Nya
Dia menyematkan segenap kemuliaan dan kebaikan. Dan Dia-pun mempersembahkan cangkir kebahagiaan.
Seraya Dia berkata,
"Jangan minum dari cangkir ini. Kebahagiaan itu hanyalah sesaat. Kecuali jika engkau mengabaikan masa lalu dan masa depanmu"
Kemudian Tuhan memberikan cangkir yang berisi penderitaan.
Lalu Dia-pun berkata,
"Lantaran penderitaan akan senantiasa menyertaimu, maka minumlah melalui cangkir ini, agar engkau mengerti hakekat kebahagiaan yang hanya sesaat"
Tak sampai disitu Tuhan juga masih menghiasi semua itu dengan kasih dan cinta yang sanggup memberikan kebahagiaan dan kenikmatan. Ia-pun menganugerahi kepuasan inderawi dan membungkus dengan manisnya madu....
Namun, semua itu akan segera sirna...lenyap...tanggal seketika bila telah dinodai oleh rayuan bendawi.
Padahal tidak hanya ini dan itu yang telah Tuhan karuniakan. Dia yang Mahapenuh Hikmah senantiasa membimbing dan mengarahkan ke jalan kebenaran. Dia-pun, menyertakan sepasang mata dibalik sanubari yang mampu memandang segala yang maya.
Pada diri manusia berkumpul....bermuara....lalu mengeram sejuta kekuatan buta yang akan menyeretnya ke padang angkara. Disitulah akan bersemayam nyawa manusia yang terpenjara tak berdaya....perlahan namun pasti "ruh" itu pun akan menjelma menjadi hantu kematian.
Tertulis sebuah janji kesetiaan, yang tak seorangpun akan mengingatnya
Suatu janji yang senantiasa kita langgar dalam perjalanan hidup
Tidakkah kita diingatkan, sewaktu Tuhan membelah jiwa dari wujud-Nya,
Lalu menciptakan keindahan diri-Nya
Dia menyematkan segenap kemuliaan dan kebaikan. Dan Dia-pun mempersembahkan cangkir kebahagiaan.
Seraya Dia berkata,
"Jangan minum dari cangkir ini. Kebahagiaan itu hanyalah sesaat. Kecuali jika engkau mengabaikan masa lalu dan masa depanmu"
Kemudian Tuhan memberikan cangkir yang berisi penderitaan.
Lalu Dia-pun berkata,
"Lantaran penderitaan akan senantiasa menyertaimu, maka minumlah melalui cangkir ini, agar engkau mengerti hakekat kebahagiaan yang hanya sesaat"
Tak sampai disitu Tuhan juga masih menghiasi semua itu dengan kasih dan cinta yang sanggup memberikan kebahagiaan dan kenikmatan. Ia-pun menganugerahi kepuasan inderawi dan membungkus dengan manisnya madu....
Namun, semua itu akan segera sirna...lenyap...tanggal seketika bila telah dinodai oleh rayuan bendawi.
Padahal tidak hanya ini dan itu yang telah Tuhan karuniakan. Dia yang Mahapenuh Hikmah senantiasa membimbing dan mengarahkan ke jalan kebenaran. Dia-pun, menyertakan sepasang mata dibalik sanubari yang mampu memandang segala yang maya.
Pada diri manusia berkumpul....bermuara....lalu mengeram sejuta kekuatan buta yang akan menyeretnya ke padang angkara. Disitulah akan bersemayam nyawa manusia yang terpenjara tak berdaya....perlahan namun pasti "ruh" itu pun akan menjelma menjadi hantu kematian.
Label:
SEBUAH CATATAN
13.10.14
Dunia Kita Yang Penuh Topeng
Written By Unknown on 13.10.14 | 13.10.14
Sumber gambar: t1.gstatic.com
Bagaimana seharusnya aku menilai diriku?
Bagaimana seharusnya aku membuat keputusan-keputusan
pada titik kehancuran dalam hidup?
Apakah frustasi dan kesia-siaan akhir dari hidup terdiri dari fakta yang semuanya tampak tidak penting sebenarnya berarti sesuatu?
Apakah hidup, bagaimanapun juga, merupakan sebuah dongeng yang diceritakan oleh seorang idiot, penuh dengan bunyi dan kemarahan, tanpa arti apa-apa?
Dimanakah teman?.....
Dimanakah kawan yang katanya karib?...
Saat terjatuh tak lagi ada kawan yang senantiasa singgah...
Saat terpuruk tak adalagi tangan yang menopang....
Itulah dunia kita...dunia penuh topeng...
Itulah dunia kita....dunia penuh kepuraan....
Dalam kosong telaga hidup...masih tersisa satu oase kehidupan, penopang hati yang lara.....dia-lah keluarga, yang setia setiap saat....seperti mentari yang tak pernah ingkar janji.....(#Sebuah catatan)
Bagaimana seharusnya aku menilai diriku?
Bagaimana seharusnya aku membuat keputusan-keputusan
pada titik kehancuran dalam hidup?
Apakah frustasi dan kesia-siaan akhir dari hidup terdiri dari fakta yang semuanya tampak tidak penting sebenarnya berarti sesuatu?
Apakah hidup, bagaimanapun juga, merupakan sebuah dongeng yang diceritakan oleh seorang idiot, penuh dengan bunyi dan kemarahan, tanpa arti apa-apa?
Dimanakah teman?.....
Dimanakah kawan yang katanya karib?...
Saat terjatuh tak lagi ada kawan yang senantiasa singgah...
Saat terpuruk tak adalagi tangan yang menopang....
Itulah dunia kita...dunia penuh topeng...
Itulah dunia kita....dunia penuh kepuraan....
Dalam kosong telaga hidup...masih tersisa satu oase kehidupan, penopang hati yang lara.....dia-lah keluarga, yang setia setiap saat....seperti mentari yang tak pernah ingkar janji.....(#Sebuah catatan)
Label:
SEBUAH CATATAN
13.10.14
Dunia Kita Adalah Tanda Baca Kehidupan
Dunia kita penuh dengan warna,
Dunia kita terpenuhi ragam dinamika,
Dunia kita penuh arti dan makna,
Dunia kita penuh misteri yang belum terungkap,
Alam dengan segenap isinya adalah tanda baca bagi kita,
sebagai obyek olahan pengetahuan yang Tuhan berikan kepada kita, maka untuk itu kita dibekali Tuhan akal
pikiran. Untuk mengolah pikir tentang kita, kehidupan kita, dunia kita, dan
pemeliharaan semesta ini.
Ragam jenis flora dan fauna berada disekitar kita, baik yang
nampak jelas maupun yang sulit dilihat karena keterbatasan penglihatan
kita. Rajawali adalah salah satu hewan
dari bangsa burung yang mempunyai ketajaman penglihatan delapan kali lebih tajam
dari manusia, mempunyai paruh yang tajam bagai pisau dan juga cakar yang kuat.
Rajawali adalah salah satu tanda baca dari-Nya, untuk kita olah pikir dalam
menyingkap hikmah Ilahi.
Ada apa dengan Rajawali?
Banyak studi dan literatur tentang Rajawali yang dapat
diungkap tentang kehidupan Rajawali. Ia berbeda dengan jenis burung lainnya, ia
lebih senang memilih bersarang ditempat yang sangat tinggi yang jauh dari
jangkauan predator lainnya. Walaupun resiko terpaan angin besar lebih cepat
untuk menggoyahkan sarangnya.
Tahukah Anda, Rajawali merupakan tipe setia pada
pasangannya. Ia hanya memilih satu pasangan dalam kehidupannya. Dalam menafkahi
keluarganya, Rajawali termasuk dalam kelompok yang ulet, gesit dan pantang
menyerah, walau harus mengorbankan nyawanya. Bagaimana tidak? Dalam memburu
mangsanya, ia harus menukik tajam agar buruannya tidak terlepas dari
incarannya. Apa yang terjadi jika saat menukik tajam ditambah dengan gaya
gravitasi yang mendorong tajam, lantas ia lepas kendali? Tentunya dengan posisi
frontal akan menyebabkan daya dorong yang luarbiasa dan sudah dipastikan akan
berakibat fatal.
Dalam mendidik anak-anaknya, ia terkenal keras dalam
mendorong anak-anaknya untuk tumbuh mandiri. Bagaimana tidak, disaat
anak-anaknya berusia 3-4 minggu sang induk mulai bertingkah ‘aneh’ ia koyak
sedikit demi sedikit sarangnya sehingga angin pun masuk menerpa badan
anak-anaknya yang masih lemah, apakah pekerjaan itu kejam?. Sekilas tampaklah
kejam, dimana seusia masih belia yang seharusnya mendapatkan "kemanjaan"
malah sebaliknya. Ternyata apa yang dilakukan sang induk dengan mengoyak
sarangnya dan angin menerpa anak-anaknya, malah menjadi stimultan bagi tubuh
anaknya hingga mempercepat proses tumbuh bulu-bulu kasar.
Hal ini tidak berakhir sampai disini saja, pada saat
anak-anaknya berumur 7-8 minggu maka digoyang-goyanglah sarangnya sehingga
anaknya ada yang terjatuh, saat anaknya mengepakkan sayap dan belum berhasil
untuk terbang dengan sigap sang induk menangkapnya dan mendukungnya diatas
kepaknya. Dan semua itu dilakukan sang induk hingga anak-anaknya dapat terbang
sendiri.
Semua yang dilakukan Rajawali kepada anak-anaknya adalah
memberikan latihan dan pengajaran, dalam mempersiapkan masa depan mereka.
Rajawali secara tidak langsung memberitahukan kepada anak-anaknya bahwa hidup
tak semudah yang dibayangkan, hidup harus dilalui dengan kerja keras, ulet,
giat dan pantang menyerah.
Selain itu pelajaran yang didapat dari kehidupan Rajawali
adalah kesetiaan pada pasangannya. Hal ini merupakan sebuah simbol, akan
kesetiaan kita pada yang maha pencipta. Dimana bila kita setia pada yang
Mahakuasansyallah, kita setia pada yang tak terlihat yaitu pada yang Mahakuasa.
Namun, bila kita tidak setia pada yang nampak, Insyallah kita pun tidak akan
setia pada yang tidak nampak.
Itulah dunia kita yang penuh ajaib,
Itulah dunia kita yang penuh dengan hikmah,
Itulah dunia kita yang penuh tanda baca untuk pelajaran
hidup,
Label:
SEBUAH CATATAN
13.10.14
Kita dan Dunia Yang Serba Terbatas
Saat senja mulai diterkam sang malam, gelap pun datang menyelimuti masa peristirahatan. Kelambu keheningan malam, mulai digelar. Tak terasa ribuan detik telah terlampaui, dalam satu masa kehidupan.
Saat di penghujung malam disela perenungan malam menjelang terbit sang fajar yang perkasa. Ku buka lembar demi lembar buku jejak langkah hidupku. Sudah berapa juta detik aku tinggal didunia ini? Sudah berapa detik waktu yang kupakai untuk "kebajikan"?
Samar ku dengar keluh kesah orang disekitar, meratapi roda nasib yang tak kunjung bergulir. Padahal banyak sudah mereka mengontrol atas daya-daya alam daripada sebelumnya. Tidakkah ingat bagaimana kita saat keluar dari tiga kegelapan? Adakah kita memiliki daya dan kekuatan? Tentunya tidak....berpakaian pun tidak...berbicara pun tidak bisa...hanya menangis manakala lapar...hanya merengek manakala haus....
Mereka jatuh ke dalam situasi demikian karena nasib yang telah mereka tentukan sendiri. Mengapa jalan kehidupanku seperti tak sesuai dengan apa yang aku harapkan?, banyak sudah beragam pertanyaan hinggap dalam alam pikir setelah melihat bagaimana sebuah perjalanan hidup telah terlalui.
Inilah cermin diri kita yang senantiasa mengeluh pada situasi yang diperhadapkan. Seringkali berprasangka "tak mungkin" dapat terselesaikan...."tak mungkin" mencukupi...."tak mungkin" akhirnya di sandingkan dengan "hal yang mustahil"....
Padahal semua ada massa-Nya, ada waktu-Nya, dan ada cara-Nya yang terkadang dan kebanyakan kurang terselami....
Itulah kita dan dunia kita, yang terbatasi oleh prasangka dan kuatir yang berlebihan....itulah dunia dan kita yang serba terbatas...
Padahal segala sesuatu ada dalam pengetahuan-Nya, ada dalam genggaman-Nya. Dan segala rencana-Nya dan rancangan-Nya, indah pada waktu-Nya....pada masa-Nya.....
Itulah kuasa-Nya...ketetapan-Nya...pada kita dan dunia....yang takdir-Nya menurut waktu dan kehendak-Nya.......
Itulah kita dan dunia kita yang terbatas dalam segala hal....hanya syukur dan mensyukuri segala nikmat yang sudah diberikan-Nya, yang dapat mendatangkan kebahagian sepanjang musim.......
Saat di penghujung malam disela perenungan malam menjelang terbit sang fajar yang perkasa. Ku buka lembar demi lembar buku jejak langkah hidupku. Sudah berapa juta detik aku tinggal didunia ini? Sudah berapa detik waktu yang kupakai untuk "kebajikan"?
Samar ku dengar keluh kesah orang disekitar, meratapi roda nasib yang tak kunjung bergulir. Padahal banyak sudah mereka mengontrol atas daya-daya alam daripada sebelumnya. Tidakkah ingat bagaimana kita saat keluar dari tiga kegelapan? Adakah kita memiliki daya dan kekuatan? Tentunya tidak....berpakaian pun tidak...berbicara pun tidak bisa...hanya menangis manakala lapar...hanya merengek manakala haus....
Mereka jatuh ke dalam situasi demikian karena nasib yang telah mereka tentukan sendiri. Mengapa jalan kehidupanku seperti tak sesuai dengan apa yang aku harapkan?, banyak sudah beragam pertanyaan hinggap dalam alam pikir setelah melihat bagaimana sebuah perjalanan hidup telah terlalui.
Inilah cermin diri kita yang senantiasa mengeluh pada situasi yang diperhadapkan. Seringkali berprasangka "tak mungkin" dapat terselesaikan...."tak mungkin" mencukupi...."tak mungkin" akhirnya di sandingkan dengan "hal yang mustahil"....
Padahal semua ada massa-Nya, ada waktu-Nya, dan ada cara-Nya yang terkadang dan kebanyakan kurang terselami....
Itulah kita dan dunia kita, yang terbatasi oleh prasangka dan kuatir yang berlebihan....itulah dunia dan kita yang serba terbatas...
Padahal segala sesuatu ada dalam pengetahuan-Nya, ada dalam genggaman-Nya. Dan segala rencana-Nya dan rancangan-Nya, indah pada waktu-Nya....pada masa-Nya.....
Itulah kuasa-Nya...ketetapan-Nya...pada kita dan dunia....yang takdir-Nya menurut waktu dan kehendak-Nya.......
Itulah kita dan dunia kita yang terbatas dalam segala hal....hanya syukur dan mensyukuri segala nikmat yang sudah diberikan-Nya, yang dapat mendatangkan kebahagian sepanjang musim.......
Label:
SEBUAH CATATAN
9.10.14
Kawin Cerai Capek Dech
Written By Unknown on 9.10.14 | 9.10.14
Tidak habis pikir melihat fenomena yang terjadi disekitar kita. Banyak sekali kisah kawin cerai melanda kehidupan. Tak jarang kita dipertontonkan bagaimana kemesraan yang terjadi sebelum melaju kejenjang perkawinan.
Bagi kalangan selebriti sepertinya kawin cerai adalah hal yang biasa dan sangat "bagus" untuk dipertontonkan dan menjadi sajian makan pagi, siang dan malam di acara infotaiment yang memang jadwal tayangnya kaya jadwal minum obat. Mungkin dengan adanya pemberitaan baik itu kemesaraan sebelum menikah maupun saat kehancuran dipersidangan manakala menghadapi gugat cerai, akan membantu "rating" kesohoran mereka.
Alasan yang menyeruak pun selalu yang klise, dimana dengan enteng mengatakan sudah tidak ada kecocokan lagi. Memangnya tutup botol yang harus cocok dan kecocok di mulut botol...hehehe...tapi apa pun itu, semua hak masing-masing orang. Walaupun kalau kita melihatnya sungguh sangat disayangkan, bagaimana tidak? Untuk sebuah acara pernikahan yang sehari saja sudah menelan biaya hingga milyaran rupiah namun hanya terbuang sia-sia. Padahal masih banyak rakyat yang hidup jauh dari garis kemiskinan. Walah malah makin ngelantur, apa urusannya rakyat yang miskin dengan "pesta pora" kayaknya tidak ada korelasi-nya.
Yang penting dari ini semua, alangkah baik dan bijaknya apabila kita dapat mempertahankan hubungan rumah tangga. Karena dalam hal ini tidak ada yang menang ataupun yang kalah, yang ada hanyalah salah satu pihak yang sangat dirugikan dan menjadi pihak yang sangat kalah yaitu anak. Merekalah pihak ataupun korban utama yang akan merasakan "limbung" dalam merasakan dan menjalani permasalahan ini. Mereka tidak akan langsung bicara untuk menolak ataupun mengiyakan, namun tahukah kita bagaimana isi hatinya?
Walaupun perceraian adalah hak masing-masing individu namun tidakkah kita dapat menyelesaikan semua ini dengan musyawarah untuk menghasilkan mufakat. Dialog ataupun komunikasi adalah kunci utama dalam hal ini, dan sesibuk-sibuknya kita tentunya masih dapat meluangkan waktu untuk komunikasi. Serta yang harus diperhatikan juga adalah tentang gaya hidup kita, karena biasanya semakin kita menapaki kesuksesan dalam karir ataupun bisnis kita, maka seiring dengan itu biasanya ada sedikit pergeseran dari gaya hidup kita. Utamakanlah untuk lebih sering mengadakan komunikasi dua arah dengan pasangan kita. Keutuhan rumah tangga harus menjadi prioritas utama dalam kehidupan.
Bagi kalangan selebriti sepertinya kawin cerai adalah hal yang biasa dan sangat "bagus" untuk dipertontonkan dan menjadi sajian makan pagi, siang dan malam di acara infotaiment yang memang jadwal tayangnya kaya jadwal minum obat. Mungkin dengan adanya pemberitaan baik itu kemesaraan sebelum menikah maupun saat kehancuran dipersidangan manakala menghadapi gugat cerai, akan membantu "rating" kesohoran mereka.
Alasan yang menyeruak pun selalu yang klise, dimana dengan enteng mengatakan sudah tidak ada kecocokan lagi. Memangnya tutup botol yang harus cocok dan kecocok di mulut botol...hehehe...tapi apa pun itu, semua hak masing-masing orang. Walaupun kalau kita melihatnya sungguh sangat disayangkan, bagaimana tidak? Untuk sebuah acara pernikahan yang sehari saja sudah menelan biaya hingga milyaran rupiah namun hanya terbuang sia-sia. Padahal masih banyak rakyat yang hidup jauh dari garis kemiskinan. Walah malah makin ngelantur, apa urusannya rakyat yang miskin dengan "pesta pora" kayaknya tidak ada korelasi-nya.
Yang penting dari ini semua, alangkah baik dan bijaknya apabila kita dapat mempertahankan hubungan rumah tangga. Karena dalam hal ini tidak ada yang menang ataupun yang kalah, yang ada hanyalah salah satu pihak yang sangat dirugikan dan menjadi pihak yang sangat kalah yaitu anak. Merekalah pihak ataupun korban utama yang akan merasakan "limbung" dalam merasakan dan menjalani permasalahan ini. Mereka tidak akan langsung bicara untuk menolak ataupun mengiyakan, namun tahukah kita bagaimana isi hatinya?
Walaupun perceraian adalah hak masing-masing individu namun tidakkah kita dapat menyelesaikan semua ini dengan musyawarah untuk menghasilkan mufakat. Dialog ataupun komunikasi adalah kunci utama dalam hal ini, dan sesibuk-sibuknya kita tentunya masih dapat meluangkan waktu untuk komunikasi. Serta yang harus diperhatikan juga adalah tentang gaya hidup kita, karena biasanya semakin kita menapaki kesuksesan dalam karir ataupun bisnis kita, maka seiring dengan itu biasanya ada sedikit pergeseran dari gaya hidup kita. Utamakanlah untuk lebih sering mengadakan komunikasi dua arah dengan pasangan kita. Keutuhan rumah tangga harus menjadi prioritas utama dalam kehidupan.
Label:
SEBUAH CATATAN




















